Buku Fisik VS Buku Online
Tadi pagi ketika ada abang tukang sampah lewat depan rumah, aku lihat ada dua kardus besar berisi tumpukan buku diantara sampah yang diangkutnya. Waktu kutanya apakah bukunya mau dijual lagi, si abang menjawab kalau buku-buku itu jika ada yang mau membeli akan dijualnya tapi jika ga ada maka akan dibakar.
Hah! benarkah? Astagfirullah al'adziim, ga percaya banget dengernya. Kasihan buku-bukunya kan..
Buku-buku berbentuk fisik sekarang ini semakin langka, orang lebih banyak mencari buku online.
Disadari atau tidak perkembangan teknologi sekarang ini semakin luar biasa. Perangkat gadget yang canggih membuat buku-buku berbentuk fisik semakin langka ditemukan. Kalaupun ada, buku-buku itu pastinya milik perpustakaan. Buku buku fisik sekarang ini sudah tergantikan dengan buku-buku online. Tinggal buka mbah google ketik judul buku yang dimau dan tadaa kita sudah dapatkan buku yang dicari. Semudah itulah buku online ditemukan. Tidak pakai ribet keluar rumah dan kalaupun perlu membayar kita hanya dikenakan harga yang lumayan murah. Buku online juga tidak akan basah jika terkena hujan atau bahkan lapuk dimakan rayap. Pokoknya kita hanya perlu punya gadget yang cukup mumpuni untuk bisa berselancar di dunia maya.
Bagaimana peran toko buku dan perpustakaan?
Toko buku setenar Gramedia, Gunung Agung, Garuda Wisnu dll makin lama makin mengecil baik pembelinya maupun ukuran tokonya. Bahkan tidak jarang dijumpai malah tutup sama sekali. Lagi-lagi peran gadget dituding sebagai pelakunya.
Perpustakaan sebagai gudangnya buku, juga sudah mulai kehilangan pamornya. Para peminat buku perpustakaan semakin sedikit. Buku-buku fisik yang dimiliki perpustakaanpun sudah sangat terbatas malah terkesan tidak lengkap dan super duper kumel. Menurut rumor, katanya sih jumlah buku yang dibeli dan biaya pemeliharaan pertahunnya tergantung anggaran yang disiapkan pemerintah setempat. Makanya jangan terlalu berharap bisa menemukan buku yang mahal di lingkungan perpustakaan. Jargon perpustakaan yang mampu menyiapkan buku segala umat sudah pupus. Padahal inginku sih perpustakaan bisa menyimpan semua buku dari berbagai disiplin ilmu. Hingga suatu saat nanti jika gadget tiba-tiba musnah dari muka bumi (iih kiamat dong..) maka kita bisa mencari buku di perpustakaan lagi.
Apa yang terjadi dengan buku-buku fisik?
Kalau dipikir lagi dengan ucapan si abang tukang sampah yang akan membakar buku buku yang diangkutnya jika tidak ada yang mau membeli, aduh bergidik rasanya hatiku. Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan buku-buku itu? Pernahkah kamu lihat atau bahkan kamu sebagai saksi bagaimana buku-buku fisik yang sudah tidak terpakai biasanya akan berakhir didagang barang bekas, jadi pembungkus makanan atau bahkan ditumpukan sampah yang siap dibakar. Sedih banget kan..
Jadi dimana kamu taruh buku-buku usangmu?
Buku-buku berbentuk fisik sekarang ini semakin langka, orang lebih banyak mencari buku online.
Disadari atau tidak perkembangan teknologi sekarang ini semakin luar biasa. Perangkat gadget yang canggih membuat buku-buku berbentuk fisik semakin langka ditemukan. Kalaupun ada, buku-buku itu pastinya milik perpustakaan. Buku buku fisik sekarang ini sudah tergantikan dengan buku-buku online. Tinggal buka mbah google ketik judul buku yang dimau dan tadaa kita sudah dapatkan buku yang dicari. Semudah itulah buku online ditemukan. Tidak pakai ribet keluar rumah dan kalaupun perlu membayar kita hanya dikenakan harga yang lumayan murah. Buku online juga tidak akan basah jika terkena hujan atau bahkan lapuk dimakan rayap. Pokoknya kita hanya perlu punya gadget yang cukup mumpuni untuk bisa berselancar di dunia maya.
Bagaimana peran toko buku dan perpustakaan?
Toko buku setenar Gramedia, Gunung Agung, Garuda Wisnu dll makin lama makin mengecil baik pembelinya maupun ukuran tokonya. Bahkan tidak jarang dijumpai malah tutup sama sekali. Lagi-lagi peran gadget dituding sebagai pelakunya.
Perpustakaan sebagai gudangnya buku, juga sudah mulai kehilangan pamornya. Para peminat buku perpustakaan semakin sedikit. Buku-buku fisik yang dimiliki perpustakaanpun sudah sangat terbatas malah terkesan tidak lengkap dan super duper kumel. Menurut rumor, katanya sih jumlah buku yang dibeli dan biaya pemeliharaan pertahunnya tergantung anggaran yang disiapkan pemerintah setempat. Makanya jangan terlalu berharap bisa menemukan buku yang mahal di lingkungan perpustakaan. Jargon perpustakaan yang mampu menyiapkan buku segala umat sudah pupus. Padahal inginku sih perpustakaan bisa menyimpan semua buku dari berbagai disiplin ilmu. Hingga suatu saat nanti jika gadget tiba-tiba musnah dari muka bumi (iih kiamat dong..) maka kita bisa mencari buku di perpustakaan lagi.
Apa yang terjadi dengan buku-buku fisik?
Kalau dipikir lagi dengan ucapan si abang tukang sampah yang akan membakar buku buku yang diangkutnya jika tidak ada yang mau membeli, aduh bergidik rasanya hatiku. Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan buku-buku itu? Pernahkah kamu lihat atau bahkan kamu sebagai saksi bagaimana buku-buku fisik yang sudah tidak terpakai biasanya akan berakhir didagang barang bekas, jadi pembungkus makanan atau bahkan ditumpukan sampah yang siap dibakar. Sedih banget kan..
Jadi dimana kamu taruh buku-buku usangmu?


Komentar
Posting Komentar